Sabtu, 08 Januari 2011

Kesepian is ...

Pernah kesepian? Saat seseorang merasa kesepian belum tentu orang itu kesepian dalam situasi yang sepi, kadang bukan lingkungan yang menyebabkannya. Walaupun kondisi sedang ramai juga dapat menyebabkan kesepian, kondisi batin inilah yang sedang dirasakan beberapa orang yang mengidap rasa kesepian. Mungkin disebabkan karena rasa kekesalan dan pengharapan yang tidak mungkin terwujud, kekecewaan, rasa marah dan sedih. Why we're standing here
That's one thing to remember !!!

Minggu, 31 Oktober 2010

Penjelasan Murid Tentang Politik


Seorang murid sekolah dasar mendapat pekerjaan rumah dari gurunya untuk menjelaskan arti kata POLITIK. Karena belum memahaminya, ia kemudian bertanya pada ayahnya. Sang Ayah yang menginginkan si anak dapat berpikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, "Baiklah nak, ayah akan mencoba menjelaskan denga perumpamaan, misalkan Ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah adalah investor. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya pemerintah. Kami disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita menyebut engkau rakyat. Pembantu, kita masukkan dia ke dalam kelas pekerja, dan adikmu yang masih balita, kita menyebutnya masa depan. Sekarang pikirkan hal itu dan lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau pahami?" Si anak kemudian pergi ke tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ayahnya. Pada tengah malam, anak itu terbangun karena mendengar adik bayinya menangis. Ia melihat adik bayinya mengompol. Lalu ia menuju kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tidur nyenyak. Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia pergi ke kamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya. Akhirnya ia menyerah dan kembali ke tempat tidur, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti POLITIK. Pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya: 'Politik adalah hal dimana para Investor meniduri kelas Pekerja, sedangkan Pemerintah tertidur lelap, Rakyat diabaikan dan Masa Depan berada dalam kondisi yang menyedihkan."

Rakyat dan Wakil Rakyat


Di sebuah Sekolah Dasar sedang diterapkan sebuah mata pelajaran baru, yaitu PMWR alias Pelajaran Mengenal Wakil Rakyat. Kemudian si Guru memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan pada murid-muridnya.

Guru : "Bupati dan Wakil Bupati, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Bupati, Bu!!!"
Guru : "Gubernur dan Wakil Gubernur, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Gubernur, Bu!!"
Guru : "Presiden dan Wakil Presien, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Presiden, Bu!!"
Guru : "Rakyat dan Wakil Rakyat, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Seharusnya sih Rakyat, Bu!!"
Guru : "Kok, pakai seharusnya?"
Murid: "Karena sekarang malah terbalik Bu guru."
Guru : "Bagus, terus tanda supaya kita kenal sama Wakil Rakyat kita bagaimana?"
Murid: "Yang pasti mereka suka warna abu-abu."
Guru : "Betul, terus apalagi?"
Murid: "Suka konspirasi politik"
Guru : "Demi apa?"
Murid: "Kepentingan, Bu!!"
Guru : "Tepat sekali, sering muncul dimana mereka?"
Murid: "Di televisi, Bu!"
Guru : "Karena apa?"
Murid: "Karena skandal dan kasus, Bu!!"
Guru : "Aduh, anak murid Ibu pinter-pinter, terus ciri Wakil Rakyat apalagi?"
Murid: "Pasti sering mendadak tajir, Bu!!"
Guru : "Darimana, kok bisa gitu?"
Murid: "Diam-diam kan nyolong, Bu. Kalau nggak ya dapat hibah gono-gini gak jelas."
Murid: "Dari yang pengin diuntungkan."
Guru : "Terus kan Wakil Rakyat sering mengadakan sidang, berapa tahun sekali?"
Murid: "Setiap hari, Bu!!"
Guru : "Kok bisa, alasannya?"
Murid: "Kan biar dapat tunjangan dan komisi rapat."
Guru : "Biasanya yang dibahas apa?"
Murid: "Nggak ada Bu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan."
Guru : "Jadi Rakyat dengan Wakil Rakyat, yang mana bosnya?"
Murid: "Ya, semestinya Rakyat dong, Bu!!"
Guru : "Kenapa semestinya?"
Murid: "Karena aneh, Bu!"
Guru : "Aneh kenapa?"
Murid: "Masak bos kekurangan beras di rumahnya, Bu! Sedangkan Wakilnya malah asik impor beras. Nimbun juga bisa kali, Bu."
Guru : "Bagus-bagus, ternyata sebelum diajari kalian sudah banyak tahu tentang Wakil Rakyat ya."
Murid: "Iya dong Bu, kan sudah jadi bukan rahasia lagi. Rakyat sudah banyak yang tahu, Bu."
Guru : "Sudah banyak yang tahu mengapa asik ongkang-ongkang kaki di Parlemen?"
Murid: "Kan,nggak tahu malu, Bu."

Minggu, 26 September 2010

Fanatisme ???

kamu tahu fanatisme?
itu sebuah kepercayaan, kesukaan yang berlebihan terhadap sesuatu. sesuatu yang over. seperti ketika kamu menyukai sebuah boneka, kemana-mana kamu akan membicarakannya, memikirkannya, membayangkannya atau bahkan sekedar mengajaknya berjalan-jalan atau bermain bersama teman-temanmu. semua menjadi tenatang boneka itu.

dan itu yang aku rasakan sekarang. sebuah fanatisme, rasa suka yang berlebih terhadap sesuatu sehingga terkadang membutakan mata akalku. seperti kabut tebal yang kemudian turun di kaki bukit, memburamkan pandanganku. menurunkan kemampuan mataku untuk melihat jarak yang lebih jauh ke depan. rasa suka berlebih yang ketika dia menghilang, dunia seakan ikut menghitam, seperti sedang terjadi gerhana matahari total dalam jangka waktu yang sangat lama. tanpa cahaya. rasa suka yang menjadikanku seperti seorang anak yang merengek meminta eskrim saat sedang sakit. sesuatu hal yang sulit. absurd.

fanatismeku itu adalah sebuah rasa suka terhadap sesuatu yang kusebut istimewa, spesial. tidak biasa. saking istimewanya aku mengimitasikan diriku dengan semua hal tentangnya dengan rela. seperti kerelaan ibu yang membesarkan anaknya seorang diri.
semua tentangku, semua pikirku adalah tentangnya. warna yang sama, aroma yang sama. semuanya sama. bahkan ketika semua kembali dan berulang. masih tetap dengan rasa yang sama. aku sangat menyukainya.

tapi kata orang, fanatisme itu tidak baik. dia pun berkata seperti itu padaku. aku tahu. aku tidak bodoh. fanatisme menghilangkan rasionalitas dan logika kita. logikaku pun hampir-hampir kabur dibuatnya. sekarang coba kamu tunjukkan, buku mana yang mengataan bahwa fanatisme itu baik. tidak ada. tapi inipun bukan sekedar fanatisme belaka. ini adalah tentang rasa. rasa suka. meskipun semua berkata salah dan tidak baik. tapi adakah rasa yang salah? karena yang aku tahu, rasa tidak pernah salah.

yah, entah karena proses yang mana, pada akhirnya aku diharuskan berusaha untuk menstabilkan kefanatikanku bersama dengan semua bentuk emosi yang menyertainya. aku harus menahan semua rasa. fanatismeku aku penjarakan, aku diamkan dan tidak kuberi makan. aku berusaha keras untuk menetralisir semuanya dengan memihak sebuah nama rsionalitas dan realitas. tapi ternyata aku tidak bisa. non-sense buatku. dan bukannya aku semakin waras, malah semakin gila. rasanya seperti memukuli dan menganiaya diri sendiri. sakit dua kali. haha...

hhh...ada sebuah rasionalitas dalam diriku yang kemudian mengajukan sebuah pillihan: penerimaan. sebuah kata lain dari penengah, yang diagungkan oleh kelompok transpersonal--diagungkan?lagi-lagi fanatisme dalam bentuk yang lain. aku dihadapkan dengan pernyataan bahwa diriku terdiri dari beberapa manusia-manusia kecil yang harus aku peluk dan aku rawat seperti anak kandungku sendiri, meskipun mereka merusak dan menyakiti diriku. dan untuk dapat memeluk, maka aku harus mengakui mereka terlebih dahulu. pengakuan bahwa mereka ada.
dan aku tersadar, inilah kehidupan itu: sebuah realitas antara rasio dan fanatisme.

*reaksi implusif