kamu tahu fanatisme?
itu sebuah kepercayaan, kesukaan yang berlebihan terhadap sesuatu. sesuatu yang over. seperti ketika kamu menyukai sebuah boneka, kemana-mana kamu akan membicarakannya, memikirkannya, membayangkannya atau bahkan sekedar mengajaknya berjalan-jalan atau bermain bersama teman-temanmu. semua menjadi tenatang boneka itu.
dan itu yang aku rasakan sekarang. sebuah fanatisme, rasa suka yang berlebih terhadap sesuatu sehingga terkadang membutakan mata akalku. seperti kabut tebal yang kemudian turun di kaki bukit, memburamkan pandanganku. menurunkan kemampuan mataku untuk melihat jarak yang lebih jauh ke depan. rasa suka berlebih yang ketika dia menghilang, dunia seakan ikut menghitam, seperti sedang terjadi gerhana matahari total dalam jangka waktu yang sangat lama. tanpa cahaya. rasa suka yang menjadikanku seperti seorang anak yang merengek meminta eskrim saat sedang sakit. sesuatu hal yang sulit. absurd.
fanatismeku itu adalah sebuah rasa suka terhadap sesuatu yang kusebut istimewa, spesial. tidak biasa. saking istimewanya aku mengimitasikan diriku dengan semua hal tentangnya dengan rela. seperti kerelaan ibu yang membesarkan anaknya seorang diri.
semua tentangku, semua pikirku adalah tentangnya. warna yang sama, aroma yang sama. semuanya sama. bahkan ketika semua kembali dan berulang. masih tetap dengan rasa yang sama. aku sangat menyukainya.
tapi kata orang, fanatisme itu tidak baik. dia pun berkata seperti itu padaku. aku tahu. aku tidak bodoh. fanatisme menghilangkan rasionalitas dan logika kita. logikaku pun hampir-hampir kabur dibuatnya. sekarang coba kamu tunjukkan, buku mana yang mengataan bahwa fanatisme itu baik. tidak ada. tapi inipun bukan sekedar fanatisme belaka. ini adalah tentang rasa. rasa suka. meskipun semua berkata salah dan tidak baik. tapi adakah rasa yang salah? karena yang aku tahu, rasa tidak pernah salah.
yah, entah karena proses yang mana, pada akhirnya aku diharuskan berusaha untuk menstabilkan kefanatikanku bersama dengan semua bentuk emosi yang menyertainya. aku harus menahan semua rasa. fanatismeku aku penjarakan, aku diamkan dan tidak kuberi makan. aku berusaha keras untuk menetralisir semuanya dengan memihak sebuah nama rsionalitas dan realitas. tapi ternyata aku tidak bisa. non-sense buatku. dan bukannya aku semakin waras, malah semakin gila. rasanya seperti memukuli dan menganiaya diri sendiri. sakit dua kali. haha...
hhh...ada sebuah rasionalitas dalam diriku yang kemudian mengajukan sebuah pillihan: penerimaan. sebuah kata lain dari penengah, yang diagungkan oleh kelompok transpersonal--diagungkan?lagi-lagi fanatisme dalam bentuk yang lain. aku dihadapkan dengan pernyataan bahwa diriku terdiri dari beberapa manusia-manusia kecil yang harus aku peluk dan aku rawat seperti anak kandungku sendiri, meskipun mereka merusak dan menyakiti diriku. dan untuk dapat memeluk, maka aku harus mengakui mereka terlebih dahulu. pengakuan bahwa mereka ada.
dan aku tersadar, inilah kehidupan itu: sebuah realitas antara rasio dan fanatisme.
*reaksi implusif
itu sebuah kepercayaan, kesukaan yang berlebihan terhadap sesuatu. sesuatu yang over. seperti ketika kamu menyukai sebuah boneka, kemana-mana kamu akan membicarakannya, memikirkannya, membayangkannya atau bahkan sekedar mengajaknya berjalan-jalan atau bermain bersama teman-temanmu. semua menjadi tenatang boneka itu.
dan itu yang aku rasakan sekarang. sebuah fanatisme, rasa suka yang berlebih terhadap sesuatu sehingga terkadang membutakan mata akalku. seperti kabut tebal yang kemudian turun di kaki bukit, memburamkan pandanganku. menurunkan kemampuan mataku untuk melihat jarak yang lebih jauh ke depan. rasa suka berlebih yang ketika dia menghilang, dunia seakan ikut menghitam, seperti sedang terjadi gerhana matahari total dalam jangka waktu yang sangat lama. tanpa cahaya. rasa suka yang menjadikanku seperti seorang anak yang merengek meminta eskrim saat sedang sakit. sesuatu hal yang sulit. absurd.
fanatismeku itu adalah sebuah rasa suka terhadap sesuatu yang kusebut istimewa, spesial. tidak biasa. saking istimewanya aku mengimitasikan diriku dengan semua hal tentangnya dengan rela. seperti kerelaan ibu yang membesarkan anaknya seorang diri.
semua tentangku, semua pikirku adalah tentangnya. warna yang sama, aroma yang sama. semuanya sama. bahkan ketika semua kembali dan berulang. masih tetap dengan rasa yang sama. aku sangat menyukainya.
tapi kata orang, fanatisme itu tidak baik. dia pun berkata seperti itu padaku. aku tahu. aku tidak bodoh. fanatisme menghilangkan rasionalitas dan logika kita. logikaku pun hampir-hampir kabur dibuatnya. sekarang coba kamu tunjukkan, buku mana yang mengataan bahwa fanatisme itu baik. tidak ada. tapi inipun bukan sekedar fanatisme belaka. ini adalah tentang rasa. rasa suka. meskipun semua berkata salah dan tidak baik. tapi adakah rasa yang salah? karena yang aku tahu, rasa tidak pernah salah.
yah, entah karena proses yang mana, pada akhirnya aku diharuskan berusaha untuk menstabilkan kefanatikanku bersama dengan semua bentuk emosi yang menyertainya. aku harus menahan semua rasa. fanatismeku aku penjarakan, aku diamkan dan tidak kuberi makan. aku berusaha keras untuk menetralisir semuanya dengan memihak sebuah nama rsionalitas dan realitas. tapi ternyata aku tidak bisa. non-sense buatku. dan bukannya aku semakin waras, malah semakin gila. rasanya seperti memukuli dan menganiaya diri sendiri. sakit dua kali. haha...
hhh...ada sebuah rasionalitas dalam diriku yang kemudian mengajukan sebuah pillihan: penerimaan. sebuah kata lain dari penengah, yang diagungkan oleh kelompok transpersonal--diagungkan?lagi-lagi fanatisme dalam bentuk yang lain. aku dihadapkan dengan pernyataan bahwa diriku terdiri dari beberapa manusia-manusia kecil yang harus aku peluk dan aku rawat seperti anak kandungku sendiri, meskipun mereka merusak dan menyakiti diriku. dan untuk dapat memeluk, maka aku harus mengakui mereka terlebih dahulu. pengakuan bahwa mereka ada.
dan aku tersadar, inilah kehidupan itu: sebuah realitas antara rasio dan fanatisme.
*reaksi implusif